ALAT KONTRASEPSI KELUARGA BERENCANA: KONDOM WANITA
ALAT KONTRASEPSI KELUARGA BERENCANA: KONDOM WANITA
Keluarga Berencana merupakan salah satu upaya mewujudkan kebahagiaan dan
kesejahteraan keluarga. Tujuan utama dari Keluarga Berencana adalah untuk lebih
meningkatkan kesejahteraan keluarga. Permasalahan yang sering terjadi di
masyarakat adalah pasangan suami istri yang kurang memiliki program atau
perencanaan dalam berkeluarga. Perencanaan keluarga meliputi kapan memiliki
anak serta jumlah anak yang diinginkan sesuai dengan kemampuan.2
Indikator pertanyaan jumlah anak dari 114 responden di Kelurahan Kradenan
Kec. Pekalongan Selatan diperoleh jawaban 102 (89,5%) menjawab “1-3”. Hasil
yang diperoleh termasuk dalam kategori baik. Dapat disimpulkan pelaksanaan
program KB di Kelurahan Kradenan berhasil karena rata-rata dari keluarga
memiliki anak berjumlah 1-3 orang. Sehingga salah satu unsur dari Norma
Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) telah tercapai yaitu keluarga
kecil dengan memiliki dua anak.2
Berdasarkan catatan BKKBN jumlah peserta KB di Indonesia yaitu 4.668.900
atau sekitar 72,91% dari keseluruhan PUS. Faktor-faktor yang mempengaruhi
keikutsertaan PUS dalam ber-KB diantaranya adalah pengetahuan, pendapatan, efek
samping, dan ketersediaan alat kontrasepsi. Diperoleh hasil bahwa seluruh
responden (100%) mengetahui tentang KB serta alat kontrasepsi yang digunakan
sudah cukup tersedia. Dimensi tingkat pendapatan, dari total 79 responden,
seluruhnya (100%) memiliki tingkat pendapatan yang cukup.1
Hasil penelitian di Kelurahan Tondo diperoleh hubungan antara tingkat
pendidikan dengan persepsi penggunaan alat kontrasepsi. Ibu rumah tangga (IRT) dengan
tingkat pendidikan lebih tinggi mempunyai persepsi lebih baik dari IRT yang
lebih rendah pendidikannya. Metode kontrasepsi yang digunakanpun beragam sesuai
dengan kebutuhan akseptor masing-masing. 2694 metode kontrasepsi yang dapat
digunakan yaitu vasektomi, tubektomi, IUD, pil, suntik, implant, spermisida,
diafragma dan kondom.5
Kondom adalah alat kontrasepsi yang lebih populer digunakan oleh kaum
laki-laki. Kini kondom perempuan muncul sebagai alternatif. Kebutuhan kondom
perempuan didasarkan pada kenyataan bahwa pemakaian kondom laki-laki sangat
rendah dalam hubungan seks yang berisiko. Penelitian di laboratorium
menunjukkan bahwa kondom perempuan tidak dapat ditembus virus HIV dan IMS. Oleh
karena itu kondom merupakan alat proteksi ganda terhadap kehamilan dan
penularan IMS. 4
Kondom perempuan berbentuk kantung, tabung silinder, yang tergantung
longgar saat terpasang di vagina. Bahan kondom tipis, transparan, panjang 17
cm, diameter 6-7.cm. Bersifat elastis dan fleksibel, sehingga mudah mengikuti
kontur vagina. Terdapat dua cincin di kedua ujungnya, di bagian dalam berfungsi
saat memasukkan ke dalam vagina, dan bagian ujung luar yang berfungsi menahan bagian
luar. 4
Cara penggunaan kondom perempuan tidaklah sulit. Sebelum di pakai
terlebih dahulu buka bungkus kondom wanita lalu cari cincin luar dan cincin
dalam pada kondom. Pencet cincin dala lalu pegang dengan jari-jari tangan
selanjutnya masukkan cincin dalam ke dalam lubang vagina. Dorong cincin dalam
sampai betul-betul masuk ke vagina, sedangkan cincin luar tetap berada di luar
vagina.3 Setelah selesai pemakaian sebaiknya jangan dibuang di
sembarang tempat serta tidak direkomendasikan pemakaian ulang kondom perempuan.4
Pemakain kondom perempuan memiliki keuntungan yaitu mudah cara
pemasangannya, tidak perlu menggunakan resep serta mudah diperoleh. Kondom
perempuan masih dapat menyalurkaan rasa hangat dan sangat sensitive serta tidak
mempengaruhi hormon alami wanita. Dalam penyimpanan tidak memerlukan suhu
khusus dalam penyimpanan dan pemakaiannya dapat menggunakan semua jenis
pelicin/lubricant. Biasanya kondom
perempuan tidak menimbulkan alergi dan tidak menimbulkan rasa sakit.3
DAFTAR PUSTAKA
1.
Kadri, A dan Japarudin, J. (2012). Faktor-faktor yang berhubungan dengan
keikutsertaan ber-KB pada pasangan usia subur (PUS) di wilayah kerja puskesmas
Towuti Desa Asuli Kabupaten Luwu Timur tahun 2011. Diakses pada 28
September 2015, pada http://www.jurnalunismuhpalu.org/index.php/PJK/article/viewFile/54/60
2.
Makmur, S. Pelaksanaan
keluarga berencana (KB) terhadap tingkat kesejahteraan keluarga. Diakses
pada 1 oktober 2015, pada http://e-journal.ikip-veteran.ac.id/index.php/geografi/article/viewFile/228/237
3.
Suryati. (2010). Kondom wanita (female condom). Diakses pada 28 September 2015, dari
http://jurnal.fkm.unand.ac.id/index.php/jkma/article/view/77/83
4.
Wulansari, S. (2009). Kondom perempuan, pemberdayaan perempuan dalam kesehatan reproduksi.
Diakses pada 28 September 2015, pada http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/download/636/627
5.
Yustiani, Laenggeng, A. H dan Paudi, R. I.
(2013). Hubungan tingkat pendidikan ibu
rumah tangga dengan persepsi penggunaan alat kontrasepsi di Kelurahan Tondo
Kecamatan Mantikulore Kota Palu. Diakses pada 28 September 2015, pada http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/EBiol/article/viewFile/2694/1811









0 komentar:
Posting Komentar